Disuatu sekolah kejuruan dikota Temanggung ada
seorang anak yang berjuang mati-matian untuk dapat sekolah. Anak itu bernama
Dede ,ia berumur 16 tahun. Hidupnya sangat memprihatinkan. Walaupun hidupnya
sangat nenprihatinkan,namun ia sangat bersemangat untuk sekolah. Keadaan
ekonomi yang kurang tak membuat ia patah semangat dan menyerah. Karna
keterbatasan ekonomi itu ia bersekolah dengan biaya gratis tapi ia tidak malu
dengan semua itu. Keseharian dia berangkat sekolah dengan jalan kaki, meskipun
perjalanan yang ditempuh itu sangatlah jauh tetap ia lakukan demi sampai di
sekolah dan menuntut ilmu.
“De, kok jalan kaki ?”tanya Andi salah satu
temannya.
“Nggak papa kan jalan kaki biar sehat.”jawab
Dede tak ragu.
“Biar sehat apa nggak punya motor? Hahaha”
ejek Andi.
Dede tersenyum sembari berkata “ aku memang
tak punya motor tapi aku masih sanggup jalan,”
Andi tertawa dan berkata “Jangan sok kuat
entar sakit kasian kamu”
“Alhmdulilah kalau nanti aku masih dikasih
sakit, berarti Allah masih sayang aku
“ jawab Dede tetap tersenyum dan tegar.
“Sakit kok alhamdulilah gila ya kamu?”Andi berkata
sambil meninggalkan Dede.
Pada saat itu Dede tetap tabah meskipun dalam
hati kecilnya merasakan sakit dan ia tetap melanjutkan perjalanannya untuk
berangkat sekolah .
Sesampainya disekolah ia langsung masuk kelas,
keadaan kelaspun masih sepi karna pada saat itu masih pagi dan belum banyak
yang berangkat. Tak lama kemudian Andi menghampiri Dede, “woy De, udah sampek
kamu ? giamana capek kamu ?”
“Nggak capek kok karna aku melakukan semua ini
dengan iklas.”jawab Dede tenang.
“haha omong kosong, makanya mama kamu suruh
membelikan motor biar kamu nggak capek jalan.”kata Andi.
“Aku bisa sekolah saja sudah bersyukur kok.
Sekolah tidak harus bawa motor karna pada dasarnya sekolah itu tidak untuk
pamer harta orang tua,namun sekolah itu tempat kita untuk menuntut ilmu demi
tercapainya kesuksesan kita. Harta orang tua tidak menjamin kepintaran dan
kesuksesan kita bukan ?”Dede menjawab dengan mantap.
Andi kaget dengan jawaban Dede, ia hanya
terdiam dan tidak berkata lagi.
“Hay, kamu kok diam ? kenapa kamu kata-kataku
ada yang salah ataukah ada yang membuatmu sakit hati ?”tanya Dede pada Andi.
“ihh apaan sih kamu, aku nggak papa, nggak
usah sok peduli deh kamu.”jawabnya agak kasar dan pergi begitu saja.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, namun masih
ada ekstra pramuka yang harus diikuti Dede dan kawan-kawannya. Satu jam telah
berlalu dan kini waktunya pulang,namun Dede tak bisa pulang karna sudah terlalu
sore dan hampir malam untuk jalan kaki. Dede memutuskan untuk menginap di
masjid sekolahnya tanpa rasa takut.
“YAALLAH berilah aku kekuatan untuk menghadapi
ini semua, aku iklas jika harus menghadapi pahitnya hidup. Lindungi aku dalam
ancaman bahaya YAALLAH.”doa Dede pada malam itu.
Paginya ada Arsil teman satu kelas
menghampirinya “ eh De kamu kok pagi banget beragkatnya?”
“aku tidak pulang, aku tidur di masjid sekolah
.”jawab Dede dengan wajah agak murung dan menahan lapar.
“loh kok nggak pulang kenapa?”tanya Arsil.
“Terlalu malam aku pulang dan harus jalan
kaki”jawabnya.
“YaAllah kasian kamu, yaudah ini kamu makan
bekalku saja,”kata Arsil.
“Tak usah, kamu saja yang makan “ tolak Dede
“Tak apa De, aku iklas tadi aku juga udah
makan kok.”pinta Arsil.
“Yaudah aku makan, makasih banget ya kamu udah
baik sama aku, semoga Allah membalas kebaikanmu”kata Dede. “iya sama-sama,
amin.”jawab Arsil.
Pada jam istirahat Andi menghampiri “ De
denger-denger kamu tidur di masjid sekolah ya? Emangnya kamu nggak takut apa?”
“iya, kenapa harus takut ada Allah yang slalu menjaga aku
.”jawab Dede lantang.
“Aku bingung sama kamu, kenapa kamu sekuat ini
menghadapi cobaan hidup ? kamu tak pernah mengeluh bahkan tak pernah menyerah.
Hidup kamu slalu menebarkan senyuman padahal aku tahu kamu orang tak
punya.”tanya Andi dengan raut wajah sedih.
“Ndi Allah memberi cobaan untuk aku dan
keluarga aku agar bisa kuat dan lebih bisa menghargai hidup ini, berkelimang
harta tak tentu membuat orang bahagia, tidak ada alasan untuk aku menyerah
dalam menghadapi cobaan hidup ini.”jawab Dede dengan mantap.
“kamu hebat De, aku minta maaf sama kamu karna
aku slalu mengejek kamu. Kini aku sadr De harta tidak bisa membeli semuanya.
Nyatanya aku yang punya uang tak bisa membeli kepintaran, sedangkan kamu orang
yang tak mampu tapi kamu hebat dalam segala prestasi. Aku iri pada prestasi
yang kamu miliki hingga aku slalu mengejekmu.”kata Andi
“iya nggak papa aku nggak marah sama kamu.
Kalo kamu mau usaha kamu bisa lebih pintar dari aku. Jangan iri denganku karna
aku hanya siswa biasa. Jika kamu ingin giat belajar kamu pasti bisa kok.”kata
Dede
“Terimakasih De. Sekali lagi minta maaf
ya.”pinta Andi.
“Iya ndi, yaudah ayo masuk udah bel masuk juga
kok” ajak Dede.
Hari demi hari telah dilalui, dengan tekat
kuatnya dengan rasa semangatnya kini Dede telah diterima di Perusahaan yang
gajinya lumayan besar. Dede menekuni pekerjaan yang telah ia dapatkan dan ia
kini telah membahagiakan kedua orang tuanya.
Jangan jadikan materi untuk mencapai
kesuksesan, karena materi tak menjamin sebuah kesuksesan. Orang yang giat
belajar , iklas dan menerima sebuah takdir dan mau merubahnya itu adalah
orang-orang hebat yang akan mencapai sebuah kesuksesan.
Karya : Novita







Tidak ada komentar:
Posting Komentar